Garuda Sejati, …

Garuda Sejati, Garuda Kertas: Sepenggal Cerita Bodoh PSSI Yang baru

Prihatin dan kecewa. Dua kata yang menggambarkan suasana hati saya yang sekejap saja membungkam rasa bangga terhadap laskar Garuda senior. Selang 4 hari setelah saya berhasil berdamai dengan logika yang mengatakan bahwa Iran bukanlah lawan yang sepadan bagi Indonesia ditinjau dari aspek manapun, kekalahan Indonesia atas Bahrain menggiring opini saya kepada sebuah kesimpulan: Reformasi PSSI ompong, omong besar kaum reaksioner.

Kesimpulan saya tersebut bukanlah sebuah pembenaran ataupun pembelaan atas rezim PSSI sebelumnya namun lebih kepada hilangnya makna reformasi yang digembar-gemborkan oleh PSSI rezim baru dibawah kepemimpinan Djohar Arifin Husein. Reformasi haruslah sebuah pembaharuan ke arah yang lebih baik, namun reformasi yang terjadi tidak lebih dari sebuah pertunjukkan perbedaan kebijakan organisasi. Reformasi PSSI hanya dimaknai dengan berbedanya rezim Djohar dengan rezim Nurdin yang dilengserkan secara tidak hormat. PSSI baru setidaknya sudah memperlihatkan dua kebijakan yang sangat berbeda, visioner, namun tidak disertai dengan pertimbangan yang cukup arif dan komprehensif. Pergantian rezim melahirkan kebijakan yang tak terevaluasi dengan baik, korbannya adalah Tim Nasional (Timnas) Merah Putih dan masyarakat pecinta sepak bola tanah air.

Konsep Liga Indonesia, Konsep Wilayah Lagi

Pertama, dalam penentuan konsep Liga Indonesia. Berawal dari niat menjembatani antara Liga Super Indonesia (LSI) dengan Liga Primer Indonesia (LPI), PSSI hampir pasti memutuskan konsep Liga lebih dari satu wilayah. Konsep tersebut dimaksudkan agar Liga Indonesia dapat mengakomodir lebih banyak klub, mengingat total 40 klub yang terdaftar di LSI dan LPI masih menginginkan Liga yang kompetitif pada musim yang akan datang. Harus diakui, LSI, kompetisi nomor wahid di Indonesia belum mampu mengangkat prestasi Timnas. Sementara itu, LPI yang digadang-gadangkan merupakan kompetisi yang berkualitas dengan menjunjung konsep fair play menurut saya sejauh ini hanya mempertontonkan sebuah kompetisi yang tidak kompetitif. Hal ini dapat ditunjukkan dengan menurunnya performa Irfan Bachdim setelah berlaga di LPI bersama Persema dibandingkan saat ia berlaga di Piala AFF. Persema dan beberapa tim lainnya terlalu tangguh bagi tim-tim amatir di LPI.

Menurut saya, bila akhirnya PSSI memaksakan mengakomodir beberapa tim amatir kedalam liga kasta tertinggi dengan pemakaian format wilayah hanya menggiring Liga Indonesia kepada penurunan kualitas kompetisi. Bayangkan bila tim kuat wilayah barat semacam Arema, Sriwijaya atau Persija tidak berjumpa dengan tim tangguh wilayah timur seperti Persipura dalam format liga (mungkin hanya bertemu di grand final). Akhirnya, liga yang kompetitif bukan saja tidak lagi dapat dinikmati oleh masyarakat, tetapi juga oleh pemain itu sendiri. Hal tersebut berimplikasi langsung kepada penurunan peforma, teknik, dan motivasi para pemain. Lebih jauh, dampak dari Liga yang tidak kompetitif ini hanya menghasilkan pemain-pemain muda lokal dengan kualitas yang seadanya. Dan ingat, pemain muda adalah masa depan timnas Garuda.

Kebodohan Disaat Yang Tidak Tepat

Kebijakan kedua, menurut saya adalah kebijakan yang aneh dan paling tidak masuk akal. Kurang dari sepekan persiapan timnas senior dalam menghadapi Kualifikasi Piala Dunia zona Asia Grup E kontra Turkmenistan, PSSI memecat Pelatih timnas, Alfred Riedl dan Asisten, Wolfgang Pikal. Riedl dan Pikal digantikan oleh Wim Rijsbergen. Suka tidak suka, Wim harus mengolah tim yang tidak pernah dipilih olehnya untuk menghadapi Turkmenistan. Untungnya, Wim didampingi untuk sementara oleh Rahmad Darmawan sebagai asisten pelatih selama babak ke dua penyisihan PPD. Hampir 90 persen pemain timnas yang sudah terdaftar pernah diasuh olehnya.

Riedl mampu mengangkat level permainan timnas Indonesia. Dari visi bermain, teknik dan efektivitas pergerakan. Kendati Indonesia yang pekasa di delapan laga Piala AFF harus takluk di final kontra Malaysia, permainan Timnas tidaklah mengecewakan. Alih-alih kontrak yang tidak jelas, Riedl dipecat secara sepihak. Padahal, bukan perkara sulit untuk mengurus kembali kontrak Riedl ketimbang harus mengurus kontrak pelatih baru. Bukan hanya Riedl, Pikal dan seluruh komponen Timnas yang menjadi korban arogansi rezim Djohar, sang meneer, Wim akhirnya menjadi korban baru yang menjadi bulan-bulanan media akhir-akhir ini. Kualitas dan gaya permainan Timnas yang sudah meningkat dibawah komando Riedl secara tak lazim dibebankan kepada Wim yang pastinya memiliki gaya kepelatihan dan visi bermain yang berbeda. Layaknya sebuah ungkapan China “mengangkat batu hanya untuk menjatuhkannya lagi diatas kaki orang lain” yang menggambarkan sebuah kondisi yang penuh dengan kebodohan. Menurut saya, PSSI telah melakukan kebodohan disaat yang tidak tepat.

Optimis dan menaruh target setinggi-tingginya adalah hal yang wajib dalam sebuah kompetisi yang sehat. Namun, harus selalu ada logika dan strategi tepat sebagai sebuah sikap yang harus dimiliki sebuah tim yang paling tidak diunggulkan. Hanya bermodalkan kemenangan babak kedua atas Turkmenistan dengan agregat 5-4, kemenangan 4-1 atas penghuni peringkat 157 FIFA, Palestina, dan dua hasil mengecewakan atas Timnas U-23 dan Yordania, Timnas terbang ke Iran untuk dibantai 3-0 dan menjamu Bahrain di Jakarta untuk kembali kalah 0-2.

Statistik Pertandingan Indonesia Terhadap Kompetitor di Kualifikasi PPD Grup E

Tim

Laga

Menang

Seri

Kalah

Bahrain

6

2

2

2

Iran

4

0

1

3

Qatar

6

1

1

4

Sumber: Penulis, 2011

Fakta pada pertandingan Indonesia-Bahrain mempertontonkan kesenjangan kualitas permainan, ketahanan fisik dan determinasi pemain muda. Jelas, permainan yang kalah kelas dengan visi bermain yang tidak jelas merepresentasikan betapa buruknya perlawanan Timnas terhadap tim yang lebih diunggulkan. Sebuah catatan menarik, Bahrain tidak diperkuat satupun pemain yang memperkuat tim Bahrain saat takluk 2-1 atas Indonesia pada Piala Asia 2007. Skuad Bahrain saat mempermalukan Indonesia 0-2 kemarin diisi oleh sejumlah pemain dengan rata-rata usia 26 tahun. Sementara, skuad Indonesia dengan rata-rata usia 29 tahun, masih dihuni oleh beberapa pemain yang memperkuat Timnas pada Piala Asia 2007. Sebut saja Bambang Pamungkas, Firman Utina dan M Ridwan adalah muka-muka lama yang masih menjadi andalan Timnas. Bukan berarti mereka adalah pemain yang buruk, sebaliknya menurut saya, kapten Timnas Bambang Pamungkas merupakan salah satu pemain Timnas yang mempunyai visi bermain yang paling bagus, namun dengan mempertahankan beberapa pemain yang menjadi pilar utama pada empat tahun silam sesungguhnya PSSI gagal mencetak pemain muda dengan kualitas dan determinasi yang mumpuni.

Tinggal empat pertandingan lagi tersisa pada babak Kualifilasi PPD zona Asia Grup E selanjutnya. Menurut saya PSSI harus bersikap ksatria dengan mengakui ketidaktepatan keputusan dan sikap arogan rezim yang membawa misi reformasi tanpa berpikir matang. Secara tidak langsung, PSSI memecah belah antara Timnas dengan pelatihnya, terlebih lagi mengurangi optimisme masyarakat pecinta sepak bola nasional akan kemajuan Timnas Indonesia.

Prediksi Hasil Akhir Kualifilasi PPD Zona Asia Grup E

Tim

Main

Menang

Seri

Kalah

Poin

Iran

6

3

3

0

12

Qatar

6

2

4

0

10

Bahrain

6

1

4

1

7

Indonesia

6

0

1

5

1

Sumber: Penulis, 2011

Jangan lagi kita cemooh Wim, apalagi Timnas. Ketidakakuran antara pelatih dan timnya merupakan implikasi instan kebodohan PSSI, sedangkan mengembalikan Riedl ke bangku pelatih juga bukan ide yang bijak. PSSI harus konsisten atas keputusannya dengan memberikan kesempatan Wim untuk memilih pemain yang sesuai dengan skema permainannya. Menurut saya, saat ini Timnas harus melupakan kompetisi sekelas Piala Dunia yang masih jauh diatas levelnya. Dalam melanjutkan empat partai sisa di Kualifikasi PPD Grup E, Garuda Merah Putih harus bermain lepas tanpa perduli siapa lawannya dan dimana medan tempurnya. Timnas harus mengoptimalkan pemain-pemain muda dengan harapan mendapatkan sebuah pembelajaran dan pengalaman bertanding di kompetisi kelas dunia. Dengan demikian, Timnas akan memandang musuh yang berat secara sederhana sekaligus menghargainya secara besamaan. Bila tidak, sesungguhnya tim Garuda Merah Putih akan hanya menjadi tim oportunis yang menyedihkan.

Garuda Sejati Bukan Garuda Kertas

Kedepannya, harapan saya dan seluruh pecinta sepakbola tanah air tentunya adalah meningkatnya kualitas permainan Timnas dan visi bermain yang jelas oleh pemain-pemain muda. Dengan bermodalkan kedua hal tersebut, saya optimis Timnas Garuda akan perkasa pada Piala AFC 2013. Evaluasi kebijakan PSSI menjadi harga mati. PSSI harus mampu mewujudkan Garuda sejati yang memiliki gaya permainan yang ditakuti lawan-lawannya bukan Garuda Kertas yang hanya dapat membuka lembaran-lembaran sejarah kejayaan sepakbola Indonesia yang sempat ditakuti lawan-lawannya era Anjasasmara dan kawan-kawan.

Satu hal yang harus menjadi pola pikir persepakbolaan nasional bagi PSSI dan masyarakat pecinta sepakbola nasional seperti saya, bahwa kita bisa saja memakan semangkuk bakso dengan mudah karena kita tahu kita dapat memakannya namun tentu kita harus memakannya seatu demi satu, perlahan-lahan, tidak menelannya sekaligus. Begitupula dalam memandang persepakbolaan nasional, Indonesia memiliki segalanya untuk menciptakan kultur sepakbola yang disegani dunia, hanya saja dalam menuju hal tersebut Indonesia harus menjalani sebuah proses dengan metode yang tepat dan direncanakan sebaik mungkin. Saat semua proses dan metode hanya memiliki kepentingan dan berorientasi pada kemajuan sepakbola nasional tanpa mengatasnamakan siapapun dan golongan apapun, Indonesia dengan ratusan juta jiwanya siap menjelma menjadi Garuda Sejati di level dunia.

 

About philosophiaofdikaiosune

Ganteng
Aside | This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s